Rabu, 03 Maret 2010

BANGIL MENANGIS



BANGIL - Entah berapa kali lagi banjir terjadi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Untuk tahun ini saja, banjir yang terjadi di wilayah Bangil dan Beji tercatat sudah yang ke-19 kalinya. Dan banjir ke-19 di wilayah Bangil-Beji itu terjadi kemarin. Akibat hujan yang terjadi selama 8 jam, air bah tumpah melalui Sungai Kedung Larangan, Bangil.

Hujan deras selama semalam kemarin (26/5) di Pandaan, Prigen dan Purwosari membuat sebagian wilayah Bangil Utara terancam. Tiga wilayah yaitu Kradenan, Kelurahan Manaruwi; Bandaran, Kelurahan Kalianyar dan Desa Masangan, kemarin terendam.

Selain hujan yang turun berjam-jam di kawasan itu, luapan sungai Kedung Larangan makin menggila ketika air kiriman dari dataran tinggi seperti Pandaan, Prigen dan Sukorejo membahana. Air kiriman ini menambah jumlah debit air bah hingga masuk ke pemukiman warga.

Pemukiman warga yang tergenang di Bangil diantaranya, Kalianyar, Kalirejo, dan Manarwui. Sementara, di Beji beberapa desa yang juga ikut tergenang diantara desa Kedungboto, Kedungringin dan Tambakan. Beberapa desa inilah yang memang menjadi langganan banjir selama bertahun-tahun dan belum ada solusinya.Kendati, air bah bertamu di rumah-rumah pendukuk, namun aktivitas kerja tetap berjalan.Termasuk juga para siswa SD dan MI baik yang ada di Kalianyar, Kalirejo maupun Kedungboto.

Bagi bocah SD dan juga MI di Masangan, banjir kali ini termasuk memiliki rentang waktu lama. Dibanding saat bulan Januari sampai Maret lalu, banjir kali ini hanya terjadi di wilayah-wilayah tertentu. "Kalau dulu, banjirnya merata. Sekarang hanya di Masangan dan Kradenan. Mumpung banjir, kita main semua," cetus Hamid, bocah lainnya.

Banjir di Masangan ini tidak sampai menggenangi kelas-kelas di sekolah. Banjir ini hanya menggenangi puluhan rumah. Hanya, banjir sempat merusak jembatan penghubung dan plengsengan yang menjadi penguat bibir sungai. Di daerah langganan banjir ini, Di daerah langganan banjir ini, sebanyak 120 rumah tergenang. Warga juga sudah menyadari sejak kemarin malam, ketika hujan deras di wilayah Pandaan, Prigen dan sekitarnya sebanyak

Tim SAR Mahameru, Malang bersama nelayan Bangil masih mencari korban banjir yang hanyut di Sungai Kedunglarangan, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pencarian korban kini dikonsentrasikan di kawasan muara Sungai Kedunglarangan, Desa Kalianyar, Kec. Bangil. Menurut keterangan pejabat Badan Kesbanglinmas selaku focal point Satlak PB setempat, saat terjadi banjir bandang yang melanda kawasan Pandaan dan Bangil, Sabtu (24/10) lalu, sepasang suami istri (pasutri) Wintoro (29) dan Fatimah (25) yang sedang mencari kayu dan bertempat tinggal di Desa Banjarkejen, Kec. Pandaan, hilang diterjang banjir. Pasutri yang sedang mencari kayu bakar tersebut diduga hanyut terseret banjir bandang, kemudian masuk ke badan Sungai Kedunglarangan.

Mayat Fatimah (25) baru ditemukan di muara Sungai Kedunglaranagan, Desa Kalianyar, Bangil, Selasa (27/1). Sedangkan mayat suaminya, Wintoro (29) belum ditemukan. Tim SAR MaHameru Malang masih terus menyusuri muara Sungai Kedunglarangan dengan menggunakan dua perahu karet dan didukung sejumlah perahu milik nelayan di sekitar muara Sungai Kedunglarangan, Bangil.

Korban banjir di Kelurahan Kalianyar, Kalirejo, dan Tambaan di Kecamatan Bangil serta Desa Kedungboto, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, kian menderita. Selain kesulitan air bersih, banjir yang belum surut memunculkan berbagai penyakit.
Beberapa korban banjir mengaku sudah berhari-hari tidak mandi. Sebab, sumber-sumber air di wilayah tersebut hanya mengeluarkan air keruh. Termasuk suplai air PDAM.

Untuk keperluan memasak, warga terpaksa membeli air mineral isi ulang. Guna mengatasi kesulitan air bersih, kemarin (7/3), Pemkab Pasuruan mengirimkan dua unit mobil tangki milik PDAM..Satu unit diturunkan di perempatan Kalianyar dan Kalirejo (depan pasar ikan Kalianyar). Satu lagi ditempatkan di sekitar jalan Desa Kedungboto. Bantuan air bersih gratis yang datang pukul 08.00 langsung diserbu warga. Seperti terlihat di depan pasar ikan Kalianyar.

Warga berdatangan membawa jeriken. Ada yang membawa gentong air 20 liter. "Iki ae wis gak adus telung dina (ini saja sudah nggak mandi 3 hari)," kata Tuti, seorang warga Kalianyar RT 1/RW 1.Walau tiga hari tidak mandi, Tuti tidak akan menggunakan air gratis itu untuk mandi. "Air bantuan ini saya gunakan untuk masak. Sebab, sebentar lagi air (banjir) surut dan PDAM bisa digunakan lagi," katanya.Tak hanya Tuti. Iwan juga ikut antre membawa gentong plastik. "Beli air jauh. Kalau ada ini, kan enak. Air bisa dipakai untuk masak. Cuma, kompornya belum kering karena kena air," ungkapnya.

Jumat (6/3), ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Kemarin, air mulai surut dan tinggal setinggi lutut. "Tapi, (air) bisa tinggi kalau hujan datang lagi," ujar Iwan.Yogi, petugas PDAM yang memberikan bantuan air bersih kepada warga, menuturkan, sampai siang kemarin mobil tangki dua kali bolak-balik Prigen-Bangil. "Pokoknya, kami mengambil air di Prigen. Lalu, membawanya kemari (Kalianyar). Kami juga akan balik kalau masyarakat meminta," paparnya.

Berdasar hasil pantauan, banjir di Kalianyar dan Kalirejo tidak separah dua hari lalu. Tapi, masih banyak fasilitas umum seperti sekolah yang terendam. Di antaranya, MI Miftahul Annur di Kalirejo dan SDN Kalianyar I.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar